Beranda | Artikel
Keutamaan Menebarkan Salam dan Berbagi Makanan
1 hari lalu

Keutamaan Menebarkan Salam dan Berbagi Makanan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 9 Rajab 1447 H / 29 Desember 2025 M.

Kajian Islam Tentang Keutamaan Menebarkan Salam dan Berbagi Makanan

Salam merupakan simbol keselamatan bagi umat manusia. Masyarakat yang mendambakan kedamaian dan kesejahteraan hanya perlu menebarkan salam di antara mereka. Berbagai kekacauan, kebrutalan, hingga pertengkaran dalam skala luas yang terjadi di masyarakat sering kali disebabkan oleh hilangnya budaya salam.

Jika kedamaian ingin diwujudkan di negeri ini, maka kaum muslimin hendaknya menebarkan salam kepada siapa pun, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Hal ini merupakan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadikan salam sebagai perekat hubungan kemasyarakatan sekaligus pengantar menuju surga Allah ‘Azza wa Jalla.

Dalam hadits nomor 981, Al-Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَأَفْشُوا السَّلَامَ ، تَدْخُلُوا الْجِنَانَ

“Sembahlah Ar-Rahman, berikanlah makanan, dan tebarkanlah salam, niscaya kalian akan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Segala sesuatu di muka bumi yang dipertuhankan manusia pada hakikatnya hanyalah makhluk, baik benda mati maupun benda hidup. Namun, terkadang manusia tidak menggunakan akal sehat sehingga menjauh dari ketaatan atau bahkan menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla.

Al-Qur’an menceritakan tentang kaum yang mengklaim bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai anak dalam surah Maryam:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ‎﴿٨٨﴾‏ لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ‎﴿٨٩﴾‏ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ‎﴿٩٠﴾‏ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا ‎﴿٩١﴾‏ وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا ‎﴿٩٢﴾‏ إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا ‎﴿٩٣﴾

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahman mempunyai anak.’ Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena mereka menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Padahal tidak layak bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam[19]: 88-93)

Pernyataan bahwa Tuhan memiliki anak adalah kemungkaran besar yang tidak berdasar. Semua yang ada di langit dan bumi, termasuk Isa Ibnu Maryam, adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Seorang hamba sudah sepatutnya hanya menghambakan diri kepada Sang Pencipta. Nabi Isa ‘Alaihis Salam tidak menciptakan langit, bumi, maupun lautan; beliau adalah manusia yang dilahirkan tanpa ayah sebagai tanda kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla.

Setelah perintah beribadah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berbagi makanan. Makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Bagi mereka yang dikaruniai rezeki berlebih, berbagi makanan kepada tetangga, fakir miskin, dan anak yatim adalah bentuk syukur agar harta tersebut tidak menjadi penyakit. Hal ini tidak perlu menunggu hari tertentu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpesan kepada Abu Dzar Radhiallahu ‘Anhu:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak daging berkuah, perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (HR. Muslim)

Seseorang yang gemar berbagi makanan kepada sesama akan merasakan keberkahan dalam hidupnya.

Poin terakhir dalam hadits tersebut adalah perintah menebarkan salam. Jika memberi makan tidak dapat dilakukan oleh semua orang karena keterbatasan ekonomi, maka menebarkan salam dapat dilakukan oleh siapa saja. Menebarkan salam tidak memerlukan biaya atau energi yang besar, melainkan hanya membutuhkan niat dan lisan yang berucap “Assalamualaikum”, ini bernilai 10 kebaikan, “Assalamualaikum warahmatullah” bernilai 20 kebaikan, dan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” bernilai 30 kebaikan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

Penerapan salam dapat dimulai dari hal sederhana, seperti saat memasuki komplek perumahan. Seorang muslim yang melewati pos penjagaan hendaknya menurunkan kaca mobil dan mengucapkan salam kepada petugas keamanan. Meskipun sedang menggunakan AC, tidak ada salahnya membuka kaca sejenak agar udara surga dapat masuk ke dalam kendaraan melalui ucapan salam tersebut. Selain ucapan permisi, salam harus didahulukan. Jika hal ini dilakukan secara konsisten, rasa kasih sayang akan tumbuh di lingkungan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

تَدْخُلُوا الجِنَانَ

“Niscaya kalian akan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Syarat utama untuk meraih surga adalah beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang tidak dapat dikatakan benar-benar baik jika ia masih menyembah selain Allah ‘Azza wa Jalla. Perbuatan tersebut merupakan keburukan yang sangat besar. Al-Qur’an menggambarkan bahwa tujuh lapis langit hampir pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung meletus hanya karena ucapan manusia yang mengklaim bahwa Allah mempunyai anak. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus rasul kepada setiap umat untuk menyampaikan tauhid, sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ…

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl[16]: 36)

Kebaikan sosial seperti suka berbagi atau menebarkan salam tidak akan sempurna jika pelakunya melakukan kesyirikan. Syirik adalah kedzaliman yang paling besar di antara segala bentuk kedzaliman lainnya seperti merampas hak orang lain, membunuh, atau menipu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman[31]: 13)

Terdapat ribuan sesembahan yang diciptakan manusia, mulai dari hewan, batu, pohon, hingga matahari. Padahal, semua itu hanyalah makhluk ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla. Seorang muslim sejati harus memegang teguh prinsip:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Keutamaan Menebarkan Salam dan Berbagi Makanan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55941-keutamaan-menebarkan-salam-dan-berbagi-makanan/